NEMAEKA – Berakhirnya secara damai persoalan antara anggota kepolisian yang mengemudikan mobil Alphard dengan petugas Satuan Pengamanan (Satpam) Bundaran HI, Fiktor Harefa, mendapat apresiasi dari berbagai pihak.
Apresiasi datang dari praktisi keamanan, Jamrin T. Andi Raga, S.Sos., S.H., yang menilai penyelesaian melalui mediasi menjadi contoh penyelesaian konflik yang mengedepankan keadilan, kemanusiaan, dan profesionalisme.
Jamrin memberikan penghargaan kepada jajaran Polsek Metro Menteng yang dinilai bergerak cepat memfasilitasi mediasi hingga tercapai kesepakatan damai antara kedua belah pihak.
“Saya memberikan apresiasi tinggi atas gerakan cepat Polsek Metro Menteng yang telah melaksanakan mediasi hingga tercipta kesepakatan damai,” ujar Jamrin.
Menurutnya, penyelesaian tersebut bukan hanya menyelesaikan persoalan individu, tetapi juga menjadi momentum evaluasi bagi seluruh jajaran kepolisian dalam membina dan melindungi profesi Satpam sebagai mitra strategis Polri.
Ia menegaskan bahwa Satuan Pengamanan merupakan unsur pengamanan swakarsa yang selama ini telah memberikan kontribusi besar dalam menjaga keamanan dan ketertiban di berbagai lingkungan kerja. Karena itu, keberadaan Satpam harus terus mendapatkan pembinaan, perlindungan, dan penghargaan yang layak.
“Hal ini menjadi perhatian penting bagi seluruh jajaran kepolisian. Satuan Pengamanan yang merupakan binaan institusi kepolisian harus benar-benar dipelihara dan diperhatikan. Kasus serupa jangan sampai terulang karena akan menjadi preseden buruk di masa mendatang,” tegasnya.
Jamrin menambahkan, selama ini para Satpam menjalankan tugas dengan penuh dedikasi sebagai garda terdepan dalam menciptakan rasa aman di lingkungan masyarakat.
Lanjutnya, mereka bekerja dengan penuh tanggung jawab tanpa mengharapkan penghargaan berlebihan, melainkan hanya membutuhkan pembinaan, perlindungan, dan pengayoman yang berkesinambungan.
“Satpam di Indonesia telah memberikan kontribusi besar bagi kepolisian. Mereka bekerja tanpa mengharap imbalan atau penghargaan khusus, cukup dibina dengan baik dan diayomi,” katanya.
Selain mengapresiasi langkah kepolisian, Jamrin juga memberikan penghormatan kepada Fiktor Harefa yang dinilainya menunjukkan sikap dewasa dan jiwa besar dengan menerima permintaan maaf sehingga persoalan dapat diselesaikan secara damai.
“Saya juga sangat mengapresiasi ketulusan hati rekan Satpam Fiktor Harefa yang berjiwa besar memaafkan oknum Polri tersebut, sehingga semuanya berakhir dengan damai. Semoga ke depan hal serupa tidak terjadi lagi,” ungkapnya.
Jamrin berharap peristiwa ini menjadi pembelajaran bagi seluruh pihak bahwa penyelesaian konflik melalui dialog dan saling menghormati merupakan langkah terbaik.
Ia juga mengingatkan pentingnya membangun hubungan yang harmonis antara Polri dan Satpam sebagai mitra dalam menjaga keamanan nasional.
Menurutnya, profesionalisme, etika, dan sikap saling menghargai harus menjadi budaya yang terus dijaga agar kepercayaan masyarakat terhadap institusi keamanan semakin kuat serta mampu menciptakan lingkungan yang aman, humanis, dan berkeadilan.***


